Minggu, 05 Februari 2012

MEMIMPIN DENGAN NILAI KETELADANAN


Oleh :
MUHAMMAD YUSRAN
Sekretaris Umum PC IMM Kota Makassar

                Adalah sudah menjadi sebuah sunnah ilahi, bahwa setiap mahluk terutama manusia selalu ada yang disebut pemimpin dan yang dipimpin. Agar kemauan dan pendapat tidak menjadi berserak-serak,  mampu untuk dihimpun dan diselesaikan dengan cara yang bijak. Kita bisa bayangkan jika dalam satu kelompok, organisasi ataupun negara tidak memilki pemimpin maka akan terjadi kebingungan, kekacauan serta keresahan dalam kelompok tersebut, karena kita tidak tahu akan kemana arah yang ingin kita capai. Oleh karena itu pemimpin sangat dibutuhkan untuk memperjelas tujuan yang ingin kita raih dalam berkelompok, berorganisasi serta berbangsa dan bernegara.

                Pemimpin bagi setiap kelompok adalah merupakan jiwa dan nyawanya. Kalau pemimpin baik jiwanya maka akan baiklah yang dipimpinnya. Sebaliknya kalau pemimpin rusak jiwanya maka akan rusak pulalah yang dipimpinnya. Pemimpin itu merupakan penegak. Yang jika kelompok itu tergelincir, dia akan membangunkan. Jika kelompok itu tersesat, maka dia akan menunjukkan jalannya. Jika kelompok itu terjatuh dia akan menolongnya. Bagi kelompok yang dipimpin, pemimpin juga merupakan juru bicara dan pemikirnya. Dia adalah benteng dan tempat bernaung disaat ada mala petaka. Lebih dari itu dia adalah menjadi tempat di mana orang datang untuk bertanya dan mencari solusi dari masalah yang dihadapi. Atau dengan kata lain pemimpin itu adalah teladan kita, contoh untuk diri kita.

                Kondisi Pemimpin bangsa hari ini

                Peran pemimpin sangatlah vital dan strategis dalam setiap kelompok apa lagi dalam konteks berbangsa dan bernegara. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pemimpin memilki andil yang sangat besar dalam mengawal serta mengamankan setiap kebijakan-kebijakan strategis untuk kemajuan bangsa dan Negara. Oleh karena itu dibutuhkan pemimpin yang memilki nilai keteladan dan nilai integritas dalam menjalankan amanahnya. Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang apakah permimpin hari ini sudah mampu menjadi teladan dalam kehidupan sehari-harinya? Apakah pemimpin hari ini sudah menjadi solusi bagi yang dipimpinya? Apakah pemimpin hari ini sudah memilki nilai-nilai keteladan atau nilai-nilai integritas dalam dirinya?

                Kalau kita berkaca pada realita hari ini maka itu sangat jauh dari apa yang kita harapkan. Masih sangat kurang ditemukan pemimpin yang bisa dijadikan teladan oleh masyrakat atau yang dipimpinnya. Kita bisa lihat di pemandangan sehari-hari baik lewat media cetak, elektronik atau bahkan dengan mata kepala kita sendiri, begitu banyak para pemimpin kita yang rela menkhianati amanah yang telah dipercayakan kepadanya. Mereka seakan tidak peduli dengan nasib masyarakat yang dipimpinnya, mereka hanya sibuk untuk bagaimana membahagiakan dirinya sendiri dengan berbagai macam cara yang mereka tempuh. Padahal masyarakat mereka sudah ada yang teriak kelaparan, tapi mereka masih asyik tidur diatas ranjang yang empuk, ruangan yang ber-AC, mobil mewah serta fasilitas-fasilitas lainnya.

                Mereka nanti meingat rakyat yang dipimpinnya pada saat mendekati momentum PILKADA. Itupun hanya kamuflase yang mereka perlihatkan untuk meraih simpati masyarakat agar memilihnya kembali. Dengan gampangnya mereka membodoh-bodohi masyarakat dengan janji-janji palsu yang dibungkus dengan retorika yang sangat indah. Tanpa memikirkan nasib rakyat yang dipimpinya yang semakin terjepit oleh hempasan arus globalisasi.

                Saya kira kita harus sedikit merenungkan sebuah pepatah yunani kuno yang mengatakan “ Proses pembusukan ikan mati berasal dari kepala, lalu menjalar ke seluruh tubuhnya”. Pepatah ini meski kedengaran kurang enak namun agaknya patut untuk kita renungkan. Falsafah kepala ikan busuk ini memberi makna bahwa pemipin atau pimpinan mempunyai pengaruh yang besar bagi yang dipimpinnya. Sehingga setiap penyalahgunaan kepemimpinan jelas akan besar pengaruhnya terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Menurut KH. Amir Ma’sum yang merupakan salah satu tokoh ormas besar di Indonesia mengatakan bahwa pemimpin adalah jiwa dari kelompok yang dipimpinnya. Berarti jika jiwa itu hidup, sehat dan baik maka akan seperti itulahnya tubuhnya. Sebaliknya, jika sang jiwa itu mati, sakit dan rusak tentu sang tubuh akan menderita hal yang sama. Begitulah hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin dalam sebuah kelompok, organisasi dan bangsa dan negara.       

                Kalau kita melihat konteks bangsa kita hari ini yang kian carut marut dengan berbagai masalah yang dihadapi, mungkin salah satu penyebabnya adalah para pemimpin kita yang kurang beres dalam mengurus bangsa ini. Mereka belum bisa menjadi solusi bagi masyarakat yang dipimpinya, mereka belum bisa menjadi teladan, sosok yang mampu di contoh oleh masyrakatnya. Sehingga kita bisa rasakan gimana kondisi bangsa yang kita cintai ini. Orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Tentu ini semua mestinya menjadi tanggungjawab pemimpin kita yang telah kita percayakan untuk membawa hidup kita menjadi lebih baik.

                Pemimpin yang ideal

                Lalu bagaimananakah sosok pemimpin yang kita idam-idamkan? Bagaimanakah sosok pemimpin yang mampu memberikan teladan kepada kita? Tentu ini salah satu hal yang sulit untuk kita jawab. Tapi saya ingin mencoba memparkan yang ideal untuk bangsa ini. Pertama Seorang pemimpin harus memilki kedekatan yang lebih kepada Tuhan dibandingkan yang dipimpinya. Pemimpin harus memilki kekuatan spiritual yang kuat. Karena ketika pemimpin memiliki kekuatan itu maka dia akan mampu mengontrol dirinya dalam berbuat hal-hal yang merugikan masyarakat. Seorang pemimpin tidak akan terjebak  dengan kenikmatan dunia ketika ada kekuatan spiritual yang tertancap pada dirinya. Kedua Seorang pemimpin harus komitmen pada tujuan yang ingin di capai. Seorang pemimpin harus punya target yang jelas, sehingga dia mampu menyusun langkah strategis dan sistematis dalam mencapai tujuan tersebut yang tentunya berpihak pada kepentingan orang banyak. Ketiga Seorang pemimpin harus memilki sifat Adil, Shiddiq, Tabligh, Amanah dan Fathanah. Karena Sifat inilah yang di miliki oleh Nabi Muhammad SAW dalam memimpin ummat islam sehingga islam bisa jaya dan sampai kepada kita semua. Dengan memilki sifat-sifat ini maka seorang pemimpin mampu untuk menjadi teladan bahkan di kagumi oleh masyarakatnya.

                Memang apa yang saya ungkapkan sangatlah ideal, tapi inilah yang dirindukan oleh masyarakat kita, Inilah yang mereka idam-idamkan. Mereka sangat meninginkan pemimpinnya mampu menjadi teladan buat mereka, mereka ingin pemimpin mereka menjadi pelindung dan penyelamat mereka disaat kesusahan. Saya kira ini bukanlah hal yang mustahil, dari sekian ribu masyarakat Indonesia pasti ada salah satu diantara mereka yang seperti itu atau minimal mendekati apa yang saya sampaikan diatas. Karena Seorang Pemimpin bisa dikatakan Sukses ketika dia sudah mampu menjadi teladan bagi yang dipimpinya. Dan inti sebuah kepemimpinan adalah Keteladanan      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar